Jumat, 08 Oktober 2010

Es Puter, Es Goyang, Es Cincau, Hmm Nikmat ...

Di saat matahari sedang bersinar dengan teriknya dan hujan yang dinanti-nanti tidak juga kunjung turun, akan terasa nikmat dan segar jika kita  dapat menikmati es, jajanan  tempo dulu seperti es puter, es goyang dan cincau hijau.
Meskipun saya tinggal di Jakarta, ternyata sudah lama sekali saya tidak menikmati  enaknya es puter dan es goyang, maklum keberadaan penjaja keliling es puter dan es goyang makin terkikis oleh ice cream merek terkenal yang kian menjamur, meskipun soal rasa es puter dan es goyang masih suka bikin kangen, mengingatkan saya pada masa-masa sekolah dulu, suka jajan dan menikmati es puter dan es goyang sambil bersenda gurau dengan teman-teman dulu saat masih menggunakan seragam putih biru.
Saya memang suka menikmati jajanan yang dijual oleh penjaja makanan di depan sekolah, seperti mie ayam, bakso, otak-otak dan pempek bulat, siomay, bakwan Malang, dan kue seperti kue cubit, kue ape dan kue lekker serta minuman pelepas dahaga seperti es doger, es podeng, es cendol, es puter, es goyang dan cincau hijau.. hmm… nikmatnya… dasar tukang jajan.. semuanya terasa enak di lidah saya.
Masih dalam petulangan makanan dan minuman Kampoeng Tempo Doeloe di acara Jakarta Fashion Food Festival yang berlokasi di La Piazza Kelapa Gading, begitu melihat antrian di stand es puter, sepupu saya berjalan dengan cepat sekali, ikutan antri untuk membeli roti bakar yang diisi dengan dengan es puter.
Cara untuk membakar rotinya pun sangat sederhana menggunakan wadah alumunium yang jauh dari modern, dimana pemanasannya menggunakan arang hitam di bawahnya, mirip dengan jagung bakar, serta roti yang digunakan adalah roti jadoel yang tebal, antrian di sini cukup panjang dan lamanya waktu untuk melakukan pemanggangan roti yang memakan  waktu sekitar 10 menit, sementara sepupu saya antri, saya pun  sibuk mengambil beberapa foto untuk KoKi dan KoKiers.

 



Tidak jauh dari stand es puter ini, lagi-lagi terlihat orang berkerumun di depan suatu stand, segera pula saya melangkahkan kaki ke sana, oh.. ternyata para pembeli terutama anak-anak sedang memilih rasa es goyang.. Hmm… saya juga tergiur dengan es goyang ini, sudah lama sekali tidak menikmati enaknya es goyang ini, setelah puas mengambil foto-foto es goyang ini, akhirnya saya ikut mencicipi es goyang rasa durian, hmm… nikmat, segar dan enak…
Es goyang ini, biasa disebut juga dengan es lilin karena bentuknya panjang seperti lilin dan lebih terkenal dengan sebutan es goyang, karena cara pembuatannya di goyang-goyang, seperti terlihat pada foto, penjual sedang menggoyang-goyang gerobaknya. Harga es goyang ini sebesar Rp. 3.000, - kalau mau dilapisi dengan cokelat, dengan cara dicelup, harganya sebesar Rp. 5.000,-. Es goyang ini masih dapat di temui di depan sekolah Theresia, Jakarta Pusat dan sekolah-sekolah lainnya, dan beberapa penjual es goyang ini masih suka berkeliling ke rumah penduduk, usai bubaran sekolah, jika dagangannya belum habis.
Kini seiring dengan perkembangan jaman, es goyang bentuknya pun sudah lebih besar mirip dengan ice cream modern, dan rasanya juga lebih bervariasi ada rasa durian, kacang hijau, strawberry, cokelat, alpukat, nangka, yang menjadi favorit tetap rasa durian dan kacang hijau. Setelah menikmati es goyang rasa durian, tadinya saya mau membeli lagi rasa kacang hijau, akhirnya tidak jadi, karena jajanan lainnya seakan-akan memanggil saya untuk mampir pula ke sana.
Meskipun saat ini es goyang mendapat saingan dari es potong produk negara tetangga yang banyak di jual di depan food courts mal, tetap saja es goyang lebih enak, menurut saya lho.







Setelah menikmati es goyang ini, saya kemudian mengelilingi dari satu stand ke stand makanan lainnya, untuk meminta izin kepada pedagang untuk mengambil foto-fotonya, dan para pedagang ini sangat ramah, dan bersedia mengobrol dengan saya, meskipun saya tidak membeli barang dagangnya. Begitu banyak makanan dan minuman yang ditawarkan di acara ini, hmm… rasanya saya harus kembali berkunjung ke sana lagi pada keesokan harinya, untuk benar-benar menikmati makanan dan minumannya, dan pada hari ini saya cukup memuaskan diri untuk mengambil foto-fotonya untuk KoKi dan KoKiers.
Ketika sedang asik mengambil foto pedagang taoge goreng serta tahu gejrot, di sebelahnya ada es cincau hijau, lagi-lagi saya mampir ke sana untuk membeli segelas es cincau hijau dan mengambil foto-fotonya. Kabarnya es cincau ini adalah minuman khas Bogor, dan di depan toko-toko tas yang menjamur di kota Bogor, selalu ada penjual es cincau dengan pikulannya yang khas.
Es cincau ini masih dapat dijumpai di sekolah-sekolah di Jakarta, biasanya sudah menggunakan gerobak, bukan pikulan, dan di food courts mal di Jakarta, harga es cincau hijau ini berkisar antara Rp. 3.000 – Rp 5.000,-, sedangkan yang dijual di mal, bersamaan dengan minuman juice harganya sekitar Rp. 10.000,- cukup mahal memang, karena pedagang makanan dan minuman ini di mal harus membayar sewa dengan sistem bagi hasil, semua pembayaran atas makanan dan minuman pada kasir pengelola mal.
Cincau hijau ini selain rasanya nikmat dan segar, banyak pula khasiatnya untuk mengurangi panas dalam, demam dan tekanan darah tinggi, untuk pengobatan, disarankan tidak menggunakan es dan santan.
Cara pembuatan cincau hijau ini dengan melakukan perendaman daun cincau, kemudian di remas-remas atau dihancurkan yang menghasilkan semacam gel cincau. Penyajian es cincau hijau ini menggunakan santan, gula cair dan es serut, biasanya saya memesan es cincau hijau ini tanpa santan, rasanya tetap enak juga.
Selain cincau hijau, ada pula jenis cincau hitam, biasanya dapat disajikan dengan sirup ataupun sebagai pelengkap pada es teler dan es campur.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar